Minggu, Agustus 24, 2008

Cerita Dari Afrika: Doa Seorang Anak

Saya mendapat cerita ini dari mailing list. Sayang tidak dituliskan sumbernya, tapi lebih sayang lagi kalau tidak dibagikan.

Suatu malam saya bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit; tapi apapun yang kami lakukan, akhirnya dia meninggal dan meninggalkan bayi premature yang sangat mungil serta seorang anak perempuan usia 2 tahun yang menangis.

Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, karenakami tidak punya inkubator (kami tidak punya listrik untuk menyalakan inkubator), kami juga tidak punya makanan khusus bayi.

Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa, di malam hari seringkali udara sangat dingin dan anginnya kencang. Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkus bayi dengan kain wol. Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas. Kemudian muridku yang mengisi botol air panas segera kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa saat mengisi ternyata botol itu meledak (karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis). "Dan ini adalah botol air panas terakhir kita," dia berseru.

"Oke," kataku, "taruh bayi itu didekat api dalam jarak yang cukup aman, dan tidurlah diantara bayi itu dan pintu untuk menjaga nya dari angin. Tugasmu adalah menjaga bayi tetap hangat."

Siang hari berikutnya, seperti hari sebelumnya, Aku pergi berdoa dengan beberapa anak yatim piatu yang berkumpul denganku. Aku berikan mereka bermacam-macam saran untuk mendoakan dan bercerita pada mereka tentang bayi mungil itu. Aku menceritakan masalah kami soal menjaga bayi supaya cukup hangat, menyebutkan tentang botol air panas, dan bagaimana bayi itu bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Aku juga bercerita pada mereka tentang saudara perempuannya yang berumur 2 tahun, yang menangis karena ibunya meninggal.

Selama berdoa, seorang gadis usia 10 tahun, Ruth, berdoa dengan doa singkat seperti kebanyakan anak Afrika kami. "Tolong, Tuhan" dia berdoa, "kirim kan botol air. Tidak baik besok, Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini."

Saat aku menarik napas dalam hati karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan, "Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bahwa Engkau sungguh mengasihinya? "

Seringkali dalam doa anak-anak, aku merasa ditempatkan pada pusatnya. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, "Amin". Oya aku tahu bahwa Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, kan? (pikiran manusia selalu ingin membatasi kuasa Tuhan)

Dan menurutku satu-satunya jalan Tuhan dapat menjawab doa-doa kami yaitu jika keluargaku di Amerika mengirimi bingkisan. Namun aku sudah tinggal selama hampir 4 tahun, dan tidak pernah, sama sekali menerima bingkisan dari rumah. Tapi, bila sesorang mengirimiku bingkisan, siapa yang akan memberi botol air panas. Sebab aku tinggal di daerah tropis!

Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parcel dikirimkan dengan mobil didepan pintu rumahku. Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi disana, di beranda,
ada dua puluh dua pon parcel yang sangat besar. Aku merasa pedih dimataku.

Aku tidak dapat membuka parsel itu sendirian, jadi aku meminta ke anak-anak yatim piatu untuk membantuku. Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Kami melipat kertasnya, supaya tidak menyobeknya. Kegembiraan meningkat. Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. Dari atas, kami mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah. Mata kami langsung silau melihatnya. Ada perban rajutan untuk pasien kusta, dan anak-anak mulai terlihat sedikit bosan. Lalu ada sekotak kismis, ini bisa dipakai untuk membuat setumpuk kue kismis di akhir pekan.

Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, aku merasa .... benarkah ini?? Aku menariknya keluar ... yaa ... ini baru, botol air panas karet. Aku menangis terharu. Aku meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku tidak
percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya. Ruth ada di barisan depan dari anak2. Ia cepat2 maju, sambil menangis, " Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia harus mengirim bonekanya juga!"

Sambil mengobrak-abrik bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah. Matanya berkilau ! Dia tidak pernah sangsi! Sambil melihatku, dia berkata : " Dapatkah aku pergi bersamamu & memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu, Yesus sangat mencintainya? ?

Ternyata parcel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Dibungkus oleh Siswa Kelas Hari Mingguku, yang mana saat mempersiapkan parcel itu, Tuhan telah memerintahkannya juga untuk mengirimi botol air
panas walaupun di daerah Tropis. Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan ke anak Afrika - Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya "sore itu" (Yesaya 65:24) "Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya. "

Baca lanjutannya ...

Kata-kata Bijak: Berbuat Baik

Apabila engkau berbuat baik, mungkin akan ada orang yang berprasangka buruk tentang perbuatanmu. Tapi tetaplah berbuat baik.

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan egois, tapi terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau sukses, mungkin ada yang cemburu, iri, bahkan memusuhimu. Tapi teruskanlah kesuksesanmu.

Apabila engkau jujur dan bersikap terbuka, mungkin orang lain akan menipumu. Tapi tetaplah jujur dan bersikap terbuka.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya dapat dihancurkan orang dalam satu malam. Tapi janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kebahagiaan dalam hati, mungkin orang lain akan iri. Tapi tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini mungkin akan dilupakan orang besok. Tapi tetaplah berbuat baik.

Walaupun engkau telah memberikan yang terbaik, mungkin itu tidak akan pernah cukup. Tapi tetaplah berikan yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu hanyalah antara engkau dan Tuhan, bukan antara engkau dan orang lain. Jangan pikirkan apa yang orang pikir tentang perbuatan baikmu, tapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan dia sanggup melihat ketulusan hatimu.

By Mother Theresa

Baca lanjutannya ...

Ada Hal Yang Tidak Bisa Dikembalikan

Seorang wanita sedang berada di ruang tunggu VIP di salah satu bandara terbesar di Amerika. Penerbangannya masih 1 jam lagi, lalu dia memutuskan untuk membeli buku bacaan dan sebungkus biskuit. Lalu dia melihat ada satu tempat duduk kosong di sebelah pria paruh baya. Wanita tersebut duduk di situ dan mulai membaca bukunya. Sambil membaca dia mulai membuka bungkus biskuit yang baru dibelinya.

Ketika dia mengambil satu biskuit, tanpa diduga pria yang di sebelahnya juga ikut mengambil satu. Wanita tersebut kesal tapi memutuskan untuk diam saja. Dalam hati dia berpikir, "lancang sekali orang ini, kalau bukan orang tua pasti aku sudah memakinya." Tapi ternyata setiap kali dia mengambil satu biskuit pria itu juga ikut mengambil satu. Karena tidak ingin ada keributan, wanita tersebut merasa lebih baik tetap diam saja.

Akhirnya biskuit yang tersisa tinggal satu. "Nah, kita lihat sekarang apa yang akan dilakukan dia lakukan" pikir si wanita. Tanpa disangka pria tersebut mengambil biskuit yang terakhir itu, membaginya menjadi dua, dan sambil tersenyum memberikan satu bagian kepada si wanita. Wanita tersebut merasa tidak tahan lagi, lalu dia segera memasukkan bukunya ke dalam tas, berdiri dan berkata: "dasar orang tua tidak tau malu!!!". Lalu dia segera pergi dan naik ke pesawat.

Setelah di duduk di pesawat wanita tersebut bermaksud untuk melanjutkan bacaannya. Ketika membuka tasnya untuk mengambil buku dia sangat terkejut, biskuit yang tadi dibelinya ada di dalam tasnya, belum dibuka, belum disentuh!

Betapa malunya wanita tersebut. Dia lupa bahwa biskuit yang tadi dibelinya masih ada dalam tas. Berarti dari tadi justru pria tersebut yang dengan tulus membagi biskuitnya, bahkan sampai memberikan potongan yang terakhir kepadanya. Padahal justru dia yang marah karena tidak rela biskuitnya diambil orang lain. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuk meminta maaf.

Ada hal-hal yang tidak bisa dikembalikan:
1. Batu, setelah dilempar.
2. Perkataan, setelah disampaikan.
3. Keberadaan, setelah hilang.
4. Waktu, setelah berlalu.

Bijaksanalah!

Baca lanjutannya ...

Jumat, Juli 25, 2008

Belajar Dari Anak Kecil

Belum lama ini saya mencoba membantu anak perempuan saya belajar naik sepeda roda dua. Usianya belum 6 tahun, tapi katanya udah kepingin kayak anak besar naik sepeda roda dua. Lalu saya melepas kedua roda kecil di kiri-kanan sepedanya, maka pelajaran pun dimulai.

Sambil memegangi sepedanya saya mengajarkan caranya menjaga keseimbangan. Setelah berjalan kira-kira 5 meter, saya mencoba melepas sepedanya dan ... gubraaak ... dia jatuh, walau tidak terluka. Tapi dia langsung bangkit dan mencoba lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi, mencoba lagi. Begitu terus tapi tetap tidak ada kemajuan. Setelah 2 jam pinggang saya mulai sakit karena membungkuk terus, saya menyerah dan memutuskan untuk memasang kembali kedua roda kecilnya. Mungkin dia masih terlalu kecil, belum waktunya pakai roda dua.

Selang dua hari kemudian dia merengek minta belajar lagi. Wah, bakal sakit pinggang lagi ini. Tapi karena sayang anak ya saya ikuti saja permintaannya. Belajar bersepeda dimulai lagi. Sudah lama mencoba tetap tidak ada kemajuan. Pinggang mulai sakit lagi, dan diapun udah mengeluh lehernya pegal (mungkin karena tegang terus menjaga keseimbangan). Saya menawarkan untuk istirahat tapi dia tetap ingin mencoba terus. Kebetulan beberapa hari lagi saya harus berangkat kerja ke luar kota selama 2 minggu. Katanya dia harus bisa naik sepeda sebelum saya berangkat. Sayangnya sampai hari itu berakhir masih belum ada kemajuan.

Hari berikutnya kami mencoba lagi dan tetap nggak ada hasil. Dia pun bertanya: "Pa, bisa nggak ya aku naik sepeda sebelum papa berangkat?" Dalam hati saya sudah ingin menjawab nggak mungkin. Tapi karena nggak tega saya berkata:"Pasti bisa! Coba aja terus dan jangan lupa berdoa". Eh... malah saya yang berdoa dalam hati: "Tuhan, jangan buat gadis kecilku ini kecewa." Lalu kami mencoba lagi, tapi tetap belum ada kemajuan. Karena capek saya pun istirahat dulu, apalagi dari tadi dia juga udah mengeluh lehernya pegal. Tapi belum 5 menit saya duduk, dia sudah mencoba-coba lagi sendirian. Saya mengamati saja. Karena hari mulai gelap dia saya mengajaknya masuk ke rumah. Dalam hati saya merasa kasihan karena masih belum ada tanda-tanda dia bakal bisa.

Besoknya dia minta belajar lagi. Karena masih ada sedikit kerjaan saya bilang agar dia belajar sendiri saja dulu, nanti saya segera menyusul. Setengah jam kemudian saya keluar rumah dan tercengang! Dia bisa jalan sendiri walaupun setiap 10-15 meter pasti harus berhenti. Semangat saya pun muncul lagi, mungkin ini jawaban Tuhan, kali ini dia pasti berhasil. Lalu saya mendampingi dia agar bisa bersepeda lebih jauh lagi. Dan tanpa terasa kami sudah keliling-keliling perumahan beberapa kali, saya berlari dan dia bersepeda roda dua! Puji Tuhan!

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman:

  • Kita harus mengusahakan segala sesuatu dengan sepenuh hati.
  • Saat kita berusaha tetapi gagal (jatuh), itu adalah hal biasa. Segeralah bangun dan mencoba lagi.
  • Saat kita ragu, serahkanlah semua keraguan kita pada Tuhan. Karena segala sesuatu yang dikerjakan bersama Tuhan pasti berhasil.
  • Sering kita tidak tahu kapan kita bisa mencapai keberhasilan, terkadang tidak ada tanda-tandanya. Tapi disitulah ujiannya, bila kita percaya maka Tuhan yang akan berkarya atas kita pada waktu-Nya.
dan yang terakhir:
  • Ternyata ngajarin anak itu harus luar biasa sabar ya...

Baca lanjutannya ...

Minggu, Juli 06, 2008

Asuransi = Tidak Beriman?

Baru-baru ini saya mempelajari mengenai boleh tidaknya kita sebagai orang percaya, anak Tuhan, membeli asuransi. Luar biasa karena saya menemukan banyak sekali artikel yang membahasnya. Dan lebih luar biasa lagi karena ada pendapat yang mengatakan asuransi sesuai dengan Firman Tuhan, tapi ada juga yang menyatakan bahwa asuransi adalah alat iblis untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. Kedua pendapat tersebut sama-sama menggunakan Firman Tuhan sebagai dasarnya. Lalu mana yang benar?

Terus terang saya bukan ahli theologia, itu sebabnya saya mencari referensi dengan membaca buku dan artikel, sayangnya apa yang saya dapat malah semakin membuat saya bingung. Tapi dengan segala keterbatasan saya, saya mencoba merenungkan apa kira-kira kehendak Tuhan.

Misalkan rumah kita berada di pinggir jalan raya. Lalu anak kita yang masih kecil sedang bermain didekat pintu gerbang yang masih terbuka. Apa yang akan kita lakukan? Berdoa agar Tuhan menjauhkan anak kita dari kecelakaan atau menutup gerbangnya agar dia tidak keluar ke jalan raya? Kalau kita memilih yang pertama, maka lebih baik Tuhan tidak mengaruniakan tangan dan kaki kepada kita. Tuhan juga sudah mengaruniakan kita berkat sehingga mampu membuat pagar di depan rumah, kenapa tidak dimanfaatkan? Kalau kita menutup pintu gerbang, apakah berarti kita tidak percaya Tuhan?

Begitu juga dengan asuransi. Membeli asuransi sama dengan menutup pagar tersebut. Kita bukan tidak percaya kepada Tuhan, tapi kita harus sadar bahwa Tuhan juga memberi kita karunia untuk melengkapi diri kita dengan berbagai hal yang dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik. Bukan hanya untuk diri sendiri, kita juga diberi karunia untuk menjadi berkat bagi orang lain, apalagi keluarga sendiri.

Firman Tuhan mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita terima tidak akan melebihi kekuatan kita. Itu berarti bahwa batasnya adalah kekuatan kita! Sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk bekerja dan mengusahakan segala sesuatu sampai dibatas kekuatan kita. Tapi kita tetap harus percaya bahwa bila kita sudah tidak mampu, masih ada Tuhan yang siap mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat kita dari masalah sebesar apapun.

Bagaimana kalau kita tidak mampu membeli asuransi? Kembali ke pernyataan sebelumnya, kita hanya wajib berusaha sampai batas kekuatan kita. Kalau sudah tidak mampu, jangan kuatir, karena Tuhan tahu batas kemampuan kita, dan Dia akan melengkapinya dengan cara yang mungkin tidak pernah kita bayangkan.

Saya mengutip satu artikel menarik mengenai asuransi yang saya tuliskan kembali di blog saya lain (lihat My Other Blogs di sebelah kanan halaman ini).

Baca lanjutannya ...

Kenapa Firman Tuhan Bisa "Bertentangan"?

Sering kita dengar dua orang pengacara berdebat untuk membela klien-nya masing-masing. Sedemikian panasnya perdebatan itu sampai kita lupa bahwa sebenarnya mereka menggunakan undang-undang yang sama di dalam sistem hukum yang juga sama. Sebagian ahli hukum mengatakan bahwa hal itu wajar saja, karena undang-undang kan dibuat oleh manusia, pasti tidak akan pernah sempurna.

Permasalahannya adalah bagaimana kalau itu adalah perdebatan rohani? Dalam hal ini yang dijadikan narasumber adalah Alkitab, kitab suci yang kita percayai adalah sebagai Firman Tuhan yang bersumber dari Tuhan sendiri. Kenapa bisa ada pendapat yang bertentangan padahal keduanya mampu menunjukkan ayat-ayat dalam Injil sebagai pendukungnya?

Hal ini terpikirkan oleh saya karena belum lama ini saya mencoba mempelajari beberapa referensi mengenai boleh atau tidaknya orang Kristen ikut asuransi. Saya menemukan beberapa artikel yang mengatakan bahwa asuransi itu diperbolehkan, tapi ada juga yang mengatakan bahwa asuransi itu adalah dosa, masing-masing mengutip ayat-ayat dalam Firman Tuhan untuk membenarkannya. Malah ada yang mengatakan bahwa asuransi itu adalah alat iblis untuk membuat manusia meninggalkan perlindungan Tuhan (saya akan membuat posting mengenai ini).

Lalu kenapa Firman Tuhan itu bisa "bertentangan".

Hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah fakta bahwa Alkitab yang kita pegang adalah terjemahan, bahkan mungkin sudah diterjemahkan beberapa kali. Tentu kita percaya bahwa Tuhan juga turut bekerja dalam proses penterjemahan tersebut, namun tetap saja manusia adalah manusia yang diciptakan Tuhan dengan akal budi dan perasaan sendiri. Bahasa yang digunakan juga adalah bahasa buatan manusia.

Hal lain yang mungkin mempengaruhi adalah biasanya kita tidak tahu latar belakang pada saat Firman Tuhan itu dibuat. Banyak juga yang berusaha mempelajarinya (dan ini sangat berguna), tapi orang tidak akan bisa mengerti 100% hanya dengan mendengar cerita orang ataupun dengan membaca literatur. Untuk benar-benar mengerti kita harus berada di waktu dan lokasi yang sama.

Hal lain yang juga sangat penting untuk disadari adalah manusia dikarunia talenta yang berbeda-beda. Dalam hal mengartikan Firman Tuhan pun masing-masing orang dapat dipengaruhi oleh cara berpikir, emosi, minat, bahkan keyakinannya (sering kita sudah menentukan sikap dulu baru mencari referensi).

Pencipta lagu tidak pernah salah menciptakan lagu. Karena memang lagu itu dibuat sesuai keinginannya. Kemudian lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang penyanyi terbaik. Walaupun sebelumnya sudah mendapat penjelasan dari si pencipta, tapi pasti ada sebagian penjiwaan lagu tersebut yang tidak sesuai dengan keinginan penciptanya. Lalu kita mendengarkan lagu tersebut, ada yang bisa menikmati, ada yang tidak mengerti, ada yang merasa mengerti, ada yang tidak peduli.

Mungkin masih banyak penyebab yang lain yang bisa dijelaskan oleh orang yang lebih ahli dalam hal ini.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita dalam hal ini? Yang pertama kita harus percaya bahwa kebenaran Firman Tuhan itu adalah mutlak. Bukan relatif, dan bukan juga "agak benar" (kalau diberi nilai antara 1-100 maka Firman Tuhan itu adalah 100). Yang bisa salah adalah kita, ciptaan Tuhan yang mempunyai keterbatasan. Kembali ke soal lagu di atas, kalau misalkan ada dua orang yang merasa mengerti maksud si pencipta tapi setelah ditanyakan ternyata mereka mempunyai pendapat berbeda mengenai arti lagu itu, apa yang seharusnya mereka lakukan? Menanyakan ke orang lain? Boleh-boleh saja, tapi bisa saja mereka malah mendapatkan jawaban yang berbeda lagi. Kalau mau jawaban yang pasti maka mereka harus menanyakan ke penciptanya.

Jadi kalau kita sudah mencari kebenaran Firman Tuhan tapi masih belum mendapatkan jawaban, maka jalan satu-satunya yang harus kita lakukan adalah datang kepada-Nya, berdoa meminta jawaban. Klise? Coba lakukan dengan sungguh-sungguh!

Baca lanjutannya ...

Jumat, Juli 04, 2008

Hari Minggu Datang Lagi

Hari Minggu datang lagi. Mau bangun rasanya masih malas, habis semalam ngobrol di rumah teman sampai jam 12. Apalagi cuaca pagi ini agak mendung. Ntarlah satu jam lagi aja.

Udah jam 7:30, kayaknya udah harus bangun nih. Sarapan, mandi, lalu berpakaian. Ceritanya siap-siap mau pergi ke gereja. Sekarang udah jam 8:15 santai dulu ah, toh anak-anak juga masih asyik bermain. Ibadah dimulai jam 8:30, pastilah kali ini terlambat! Biar ajalah, kasihan juga istri, dan pembantu masih sibuk: nyiapin cemilan buat anak, baju ganti (maklum anak masih kecil), ngunci pintu rumah, dll.

Jam 8:30 udah mulai jengkel, lalu mulai marah-marah ayo dong! Ini udah jam berapa? Masak kita terlambat lagi? Stresss ……

Akhirnya semua siap tapi jelas sudah terlambat. Di jalan ngebut, klakson bunyi terus, anak ribut dikit dimarahin, istri ngomong juga dimarahin.

Nyampe juga di gereja. Dengan hati jengkel setengah berlari masuk ke gereja. Lagu penyembahan sudah lewat, sekarang masuk ke lagu pujian. Lagunya gembira, tapi karena hati udah keburu jengkel, rasanya udah nggak berminat nyanyi lagi. Berdiri aja sambil ngelihatin orang-orang. Itu worship leader kok liriknya salah ya? Lagu ini juga beat-nya harusnya rada lambat. Itu pemain tambourine juga kayak belum hapal gerakannya, kok ngelihat temannya melulu.

Ya udah, pujian selesai. Waktunya memberi persembahan. Astaga...! Duit didompet kosong, tadi malam kan dipake buat beli sepatu. Yah, namanya juga buru-buru, harusnya tadi mampir di ATM dulu. Untung di kantong ada duit ribuan. Daripada nggak ada, nggak apalah ngasih sedikit, kan nggak ada juga yang lihat.

Sekarang waktunya khotbah. Ya ampun, pendetanya yang ini lagi. Kalau dia yang khotbah rasanya bosan, bikin ngantuk aja! Pendetanya minta jemaat untuk membaca secara bergantian, ah nyebelin. Saya kan paling malas bawa Alkitab. Lagian kenapa sih pake baca Alkitab sama-sama gitu? Kan malah jadi nggak jelas kedengarannya. Lirik kiri kanan, semuanya pegang Alkitab. Yang duduk di samping mau minjamin Alkitab, tapi belagak nggak butuh: “Nggak usah Pak, saya dengerin aja”. Setelah selesai, mulailah pendetanya khotbah. Benar kan kotbahnya membosankan. Udah nggak bermutu, panjang lagi. Rasanya udah pengen pulang aja, tapi entar dulu ah … masih ada satu persembahan lagi. Nggak enak dilihat orang kalau pulang sebelum persembahan.

Selesai doa persembahan, jemaat mulai berdiri untuk menyanyikan pujian terakhir dan doa berkat. Tapi kalau nanti pulang pas selesai doa berkat, pasti jadi ikutan ngantri di pintu. Mendingan pulang sekarang ajalah, mumpung masih sepi. Lalu langsung ngeloyor keluar. Ah lega … akhirnya kewajiban gereja minggu ini sudah terpenuhi. Sekarang bisa lanjut cari makan.

Habis makan nggak sengaja ketemu orang-orang yang baru pulang gereja. Dengan senyum ceria dia berkata, "Hai udah disini ya. Tadi di gereja duduk di depan saya kan? Tadi ibadahnya istimewa ya? Roh Kudus benar-benar terasa hadir di tengah-tengah kita. Selamat hari Minggu ya …. Tuhan memberkati."

Sayapun bengong. Kami kan gereja di tempat yang sama. Rasanya dari awal sampai akhir nggak ada satupun yang beres, kok bisa-bisanya dia merasa begitu terberkati. Akhirnya saya jadi malu sendiri, karena baru saja mengabaikan berkat dari Tuhan. Semua terjadi karena saya tidak mempersiapkan hari ini, khusus buat Tuhan.



Dirangkum dari: hasil diskusi, baca artikel, nanya-nanya, dan ... pengalaman sendiri. Tuhan memberkati!

Baca lanjutannya ...

Minggu, Juni 08, 2008

Chapel Music Ministry

Nggak sengaja nemu album Chapel Music Ministry (CMM) di internet, judulnya Higher Ground. Karena covernya cukup menarik iseng aja coba ngedownload. Ternyata lagu2nya luar biasa, boleh diacungi 2 jempol.
Gaya bermusiknya akustik plus (kayak The Corrs minus musik Irlandia-nya). Vokal worship leadernya juga sangat berkelas, powernya kuat, dan artikulasinya jelas. Lagu-lagunya sangat menarik, terutama yang judulnya CintaMu, Bersuka, dan Higher Ground, Rise Up, Sang Raja, ... (katanya terutama tapi udah mau semua yang disebutin). Untuk penggemar lagu rohani sangat direkomendasikan untuk membeli album ini (BELI lho, bukan download!)

Karena masih penasaran, coba browsing di internet. Ada situsnya www.chapelmusicministry.com, dan ada juga profilnya di friendster. Ternyata group ini dibentuk oleh Aminoto Kosin, nama yang sudah tidak asing di dunia musik Indonesia. Nggak heran kualitas bermusiknya sangat baik. Diproduksi secara indie label, mungkin membuat promosinya kurang kencang sehingga tidak begitu terkenal.
Ternyata yang judulnya Higher Ground itu adalah album yang kedua. Sebelumnya udah ada album perdana berjudul Here I Come.

Walau tidak kenal satupun personnel CMM, kayaknya saudara-saudara kita ini harus disupport dengan membeli albumnya dan juga mempromosikannya ke teman, saudara, rekan kerja, dst. Semoga pelayanan mereka semakin besar dan membawa berkat bagi lebih banyak orang.

Baca lanjutannya ...

Rabu, Juni 04, 2008

Hati Hamba, by Sari Simorangkir

Lagu yang terasa sangat indah dan tulus. Mungkin ada yang memerlukan, disini ditampilkan lirik lagunya.


HATI HAMBA
Sari Simorangkir
Album 31:31


Ku tak dapat lupakan
Kebaikan yang ku t'rima
PengorbananMu yang mulia
Jadikan ku berharga

Kau tulus menerima
Aku apa adanya
Kekuatan KasihMu Nyata
Memulihkan Hidupku

Reff:
Kau bukan Tuhan yang melihat rupa
Kau bukan Tuhan yang memandang harta
Hati hamba yang s'lalu Kau cari
Biar Kau temukan di dalamku

S'lama ku hidup ku mau menyembahMu
S'bab Engkau sangat berarti bagiku
Yang terbaik yang ada padaku
Kupersembahkan kepadaMu
Yesusku

Baca lanjutannya ...

Selasa, Juni 03, 2008

Cara Paling Sederhana Untuk Melayani Tuhan

Pernahkah anda merasakan kerinduan untuk melayani Tuhan, tapi bingung bagaimana caranya? Mau menjadi singer tapi merasa punya suara jelek, mau menjadi diaken tapi nggak pede tampil di depan orang, apalagi mau menjadi pendeta, mungkin baca Alkitab saja cuma dihari Minggu. Apakah berarti anda belum siap untuk melayani? Tidak adakah cara yang lebih mudah untuk mulai melayani Tuhan?

Pasti anda pernah melihat seseorang yang bukan pelayan di gereja tapi hidupnya jujur, suka menolong sesama, selalu bersyukur, wajahnya selalu memancarkan kasih, rajin beribadah, dan hidupnya penuh sukacita. Apa yang anda rasakan ketika bertemu dengan orang yang seperti itu? Benci? Pasti sebaliknya!

Semua orang pasti senang bila punya kesempatan bertemu dengan orang yang seperti itu. Dia selalu dihormati, disambut dengan tangan terbuka, dan dirindukan. Bahkan banyak orang yang ingin agar bisa menjadi orang yang seperti dia. Malah mungkin banyak ibu-ibu yang menjadikannya sebagai contoh bagi anaknya, banyak suami yang menjadikannya sebagai contoh bagi istrinya, bahkan banyak orang yang menjadikannya teladan.

Lalu apa hubungannya dengan melayani Tuhan?

Baca dulu Matius 5:16 berikut:
"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga"

Berarti dengan menjadi seperti orang tersebut bukankah kita sudah memuliakan Bapa di sorga? Ini adalah cara yang paling sederhana untuk mulai melayani. Tidak perlu belajar menyanyi, tidak perlu belajar main musik, dan tidak perlu masuk sekolah theologia.

Dengan suka menolong sesama kita tidak hanya membahagiakan orang yang telah kita tolong, mungkin lebih banyak lagi yang kita bahagiakan secara tidak langsung, atau malah mungkin akan banyak juga jiwa yang kita selamatkan.

Bila kita seorang pemimpin di perusahaan yang hidup di dalam Kristus, mungkin bawahan kita akan segan untuk mengajak kita melakukan yang tidak benar. Kalau karena kita mereka tidak jadi melakukan hal buruk mungkin secara tidak langsung kita sudah menolong anaknya,istrinya, atau bahkan orang lain yang tidak kita duga. Artinya kita melayani Tuhan.

Yang paling nyata adalah perbuatan seorang bapak atau ibu akan menjadi contoh bagi anaknya. Contoh tersebut akan selalu tertanam di hatinya, dibawa sampai tua, dan suatu saat akan diteruskan kepada anak-anaknya.

Tapi bukan berarti pelayanan cukup sampai disini. Sama seperti seorang bayi yang baru lahir, kita perlu belajar terus agar pelayanan kita semakin bertumbuh dan semakin lengkap. Hal ini akan dibahas di posting yang lain.

Yang penting adalah anda harus tau bahwa ada cara yang sangat sederhana untuk melayani, dan anda bisa mulai melayani Tuhan mulai detik ini juga.

Selamat melayani. Tuhan memberkati.

Baca lanjutannya ...

Senin, Juni 02, 2008

"... bagi duit buat persembahan doong!"

Pernah nggak lihat atau dengar seseorang ngomong gitu ke temannya? Atau mungkin juga seorang anak ke orang tuanya, atau suami ke istrinya. Apakah benar bila persembahan yang akan kita berikan di gereja hasil dari meminta ke orang lain?

Apa sih artinya persembahan itu? Semuanya pasti sudah tahu kalau memberikan persembahan ke gereja artinya pengorbanan yang tulus dengan mengambil sebagian dari apa yang kita punyai dan diberikan untuk membantu pelayanan. Lalu kok bisa minta dari orang lain?

Ada yang berkilah: "saya kan minta dari orang tua saya sendiri, boleh kan?". Tentu saja boleh, tapi itu berarti anda belum memberikan bagian dari yang anda punyai. Dalam hal ini berarti orang tua andalah yang memberikan persembahan.
Ada juga yang bilang: "saya kan cuma minta dari suami, nanti juga akhir bulan dipotong dari uang belanja". Bisa juga begitu, tapi kalau caranya begitu kenapa nggak disiapkan dari uang belanja yang bulan kemarin?
Ada yang bilang: "saya nggak punya uang kecil". Ini yang lebih parah lagi! Kalau memang nggak punya uang kecil ya persembahkan uang besar juga boleh kok, hehe... Atau kalau memang uang anda sudah dialokasikan buat yang lain, paling tidak anda juga menyiapkan untuk persembahan, baik jumlah maupun pecahannya.

Akhirnya kembali lagi ke pernyataan awal, persembahan adalah pengorbanan yang tulus dengan memberikan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu pelayanan. Bagaimana dikatakan pengorbanan kalau ternyata itu diminta dari orang lain, bagaimana dikatakan tulus kalau ternyata kita tidak berniat untuk menyiapkannya (bahkan mendoakannya). Bagaimana dikatakan membantu pelayanan kalau dari awal kita berpikir bahwa untuk persembahan itu harus uang receh.

Tentu saja situasinya berbeda bila orang tua memberikan uang persembahan untuk anak kecil yang bahkan belum mendapat uang jajan. Persembahan bagi anak kecil bukan bertujuan untuk mengajarkan sang anak melakukan pengorbanan yang tulus, tapi lebih kepada untuk membiasakan anak tersebut memberikan persembahan sampai tiba waktunya dia bisa mengerti tujuannya.

Jadi rencanakan dulu keuangan, kemudian tentukan berapa yang akan kita siapkan untuk persembahan. Bila tiba waktunya, doakan dan lakukan.

Tuhan memberkati.

Baca lanjutannya ...

Penuh berkat = Kaya?

Sering orang menganggap bahwa orang yang hartanya banyak dan kaya raya adalah orang yang diberkati Tuhan. Sering juga kita mendengar kotbah yang mengatakan bahwa kalau kita memberikan persembahan atau perpuluhan, maka Tuhan akan mengembalikannya berlipat kali. Mungkin kita juga pernah berdoa meminta berkat dari Tuhan tapi sebenarnya yang kita minta adalah rejeki (materi) yang berlimpah.

Apakah berkat = harta?


Kalau iya, kenapa masih banyak pendeta yang hidupnya susah? Bahkan lebih susah dari koruptor, maling, penjudi, dll. Apakah pendeta tersebut lebih berdosa dari mereka? Apakah pendeta tersebut tidak pernah memberikan perpuluhan? Sebaliknya apakah kalau ada pendeta yang kaya berarti hidupnya lebih mulia dari orang miskin?

Tentu saja menjadi kaya itu tidak salah. Abraham adalah seorang saudagar yang kaya raya. Raja Salomo termashyur dengan kekayaannya. Ayub juga adalah saudagar yang kaya raya, bahkan semakin kaya setelah lulus dari ujian iblis. Tapi jangan lupa, keduabelas Rasul tidak ada yang kaya, bahkan mereka diminta Yesus untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Dia. Para nabi Elia, Elisa, Musa, dll. juga bukanlah orang kaya. Apakah berkat yang mereka terima memang sedikit?

Berkat Tuhan yang sebenarnya adalah hidup itu sendiri. Hidup yang bagaimana? Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Seperti apa hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus? Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah hidup yang dapat menjadi berkat bagi orang lain: bagi suami/istri, orang tua, anak, saudara, teman, bagi siapa saja. Itulah yang dilakukan para rasul dan nabi sehingga mereka meninggalkan pekerjaannya, bahkan menyerahkan hidupnya untuk dapat melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberi kita kemampuan agar kita menjadi berkat bagi sesama manusia. Kalau kita kaya, berarti lebih banyak orang yang harus kita berkati dengan harta kita. Kalau kita kuat berarti lebih banyak orang yang dapat kita tolong dengan kekuatan kita. Kalau kita pintar berarti lebih banyak orang yang harus kita berkati dengan ilmu yang kita punya.

Jadi bila nanti anda melihat orang kaya, jangan langsung menganggap bahwa dia banyak mendapat berkat. Tapi kalau anda melihat orang tersebut memberkati orang lain dengan kekayaannya, itulah tandanya berkat Tuhan sudah turun atasnya.

"Tuhan buatlah kami menjadi saluran berkat bagi orang lain."

Baca lanjutannya ...

Berkat Tuhan Tidak Harus Spektakuler

Ini ceritanya udah agak lama, tapi rasanya paling tepat untuk dijadikan pembuka.

Ceritanya dalam kebaktian mezbah keluarga di lingkungan kita masuk ke dalam ruang kesaksian. Seperti biasa, masing-masing keluarga diminta untuk membagikan berkat yang mereka peroleh dalam minggu yang baru lewat. Tapi kali ini kok kayaknya nggak ada mau bicara. Setelah ditunggu beberapa menit masih diam, barulah salah seorang angkat bicara dan menanyakan: “Kenapa sih nggak ada yang bicara? Apa memang di minggu ini nggak ada berkat? Kalau nggak ada berkat lalu ngapain kita berkumpul disini? Cobalah lihat hidup anda, pasti ada berkat yang anda terima, walaupun itu tidak spektakuler!”

Waktu itu saya jadi teringat cerita yang saya peroleh waktu masih kecil dulu, dan mungkin karena pas banget momentumnya, langsung saja saya ceritakan ulang saat itu. Menarik juga untuk dibagikan disini.


Ceritanya gini:

Alkisah ada seorang pendeta yang rumahnya mengalami kebanjiran. Mula-mula banjirnya cuma setinggi mata kaki, lalu naik sampai selutut, lalu sampai ke pinggang. Orang-orang mulai mengungsi, tapi si pendeta masih terus bertahan. Dia naik ke atas meja lalu berdoa: “Tuhan kalaupun banjir ini tidak bisa berlalu, aku percaya Engkau Tuhanku akan menyelamatkanku”. Salah seorang tetangganya yang lewat mengulurkan tangannya kepada pendeta tersebut dan mengajaknya mengungsi. Tapi si pendeta tersebut berkata: “Terima kasih. Saya percaya Tuhan akan membawa saya keluar dari banjir ini.”

Lalu banjir semakin tinggi dan pendeta tersebut terpaksa naik ke atas lemari dan berdoa: “Tuhan, Engkau Tuhanku! Selamatkanlah aku dari banjir ini.” Tidak lama kemudian perahu karet milik tim penyelamat datang dan mengajaknya pergi, tapi pendeta tersebut tetap tidak ikut karena “Saya punya Tuhan yang akan menggendong saya”.

Banjir semakin tinggi lagi dan si pendeta naik ke atap rumah dan berdoa: “Ya Tuhaaaan, banjir semakin tinggi kenapa Engkau tidak mengangkatku dari sini?”. Tidak lama kemudian helikopter TNI datang dan melemparkan tali untuk menyelamatkan. Tapi tetap pendeta tersebut tidak mau pergi dan berkata: “Tuhanku akan mengirimkan malaikat untuk mengangkat dan menyelamatkanku!”

Singkat cerita, air semakin tinggi dan pendeta tersebut mati tenggelam. Di akhirat dia bertemu dengan Tuhan dan langsung protes: “Tuhan, kenapa aku sudah berdoa, berdoa, dan berdoa tapi Engkau tetap tidak mengirimkan malaikatMu untuk menyelamatkanku? Lalu Tuhan menjawab: “Anakku, Aku selalu mendengar doamu. Saat engkau berdoa agar bisa keluar dari banjir tersebut, Aku mengirimkan tetanggamu untuk menjemputmu. Saat engkau berdoa agar Aku menggendongmu, Aku mengirimkan perahu karet untuk membawamu. Saat engkau berdoa agar Aku mengangkatmu, Aku mengirimkan helikopter untuk menyelamatkanmu. Kenapa engkau tidak menerima dan mensyukuri pertolonganKu?”

Memang sering kita lupa bersyukur karena hal tersebut kita anggap biasa. Pernah anak saya yang baru berumur 4 tahun “hilang” selama beberapa menit di supermarket. Dia membelok sendiri sehingga lepas dari pandangan saya. Selama mencari rasanya satu persatu barang di supermarket tersebut mau runtuh! Setelah bertemu lagi barulah saya disadarkan bahwa setiap hari, setiap waktu bersama dia adalah berkat terbesar dalam hidup saya.

Tuhan memberkati.


Baca lanjutannya ...